0

Ini Akibatnya Jika Tidak Disiplin Minum Obat Darah Tinggi

Penderita hipertensi yang harus mengonsumsi obat untuk menurunkan tekanan darahnya mengetahui bahwa obat tersebut harus dikonsumsi secara teratur. Namun, sayangnya banyak penderita yang tidak disiplin mengonsumsi obat darah tinggi. Terdapat banyak faktor yang membuat penderita tekanan darah tinggi tidak disiplin minum obat, diantaranya adalah karena faktor biaya, akeses pada layanan kesehatan, hingga karena alasan lupa.

Ini Akibatnya Jika Tidak Disiplin Minum Obat Darah Tinggi

Ketidakdisiplinan dalam mengonsumsi obat secara teratur ini dapat meningkatkan risiko komplikasi dari tekanan darah tinggi. Penderita tekanan darah tinggi yang sering lupa mengonsumsi obat darah tinggi diketahui lebih mungkin mengalami gagal jantung dibandingkan dnegan penderita yang hanya kadang-kadang lupa.

Untuk mengetahui dampak dari ketidakdisiplinan dalam mengonsumsi obat darah tinggi, para peneliti mengkiti sekitar 4000 pasien yang diberi resep obat antihipertensi di wilayah Lombardy, Italia pada tahun 2005.

Pasien yang tingkat kedisiplinan dalam minum obatnya sekitar 26%-50% ternyata memiliki risiko untuk dirawat dirumah sakit akibat gagal jantung turun 17% dibandingkand engan mereka yang sering lupa mengonsusmi obat. Dan pada penderita dengan tingkat kedisiplinannya mencapai 75% memiliki risiko yang lebih rendah lagi.

Menurut WHO, 1 dari 3 orang dewasa memiliki tekanan darah tinggi, kondisi yang berkontribusi pada lebih dari 9 juga kematian pada setiap tahunnya. Sebagian besar orang tidak menyadari dirinya memiliki tekanan darah tinggi. Pasalnya tekanan darah tinggi ini memang tidak menimbulkan gejala apapun. Bahkan setelah didiagnosis dan diberi obatpun banyak penderita yang tidak patuk mengonsumsi obat tersebut, karena tekanan darah tinggi tidak membuat mereka merasa sakit.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan penyakit yang harus mendapatkan penanganan dengan baik, mengingat tingginya tingkat kematian akibat komplikasi. Penderita tekanan darah tinggimungkin merasakan gejala yang tidak berarti, seperti sakit kepala, mengantuk, keletihan, susah tdiur, gemetaran, mimisan, atau penglihatan yang kabur. Peningkatan tekanan darah yang berkepanjangan dapat merusak pembuluh darah disebagian besar tubuh.Ketika gejala spesifik muncul, aan berhubungan dengan kerusakan vaskuler pada organ yang mendapatkanaliran darah dari pembuluh darah. Komplikasi tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol akan merusak organ.

Menurut Sekretasi Jendral Depkes, Sjafii Ahmad, tekanan darah tinggi bisa dicegah jika faktor risikonya dikendalikan dengan mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Mendeteksi disi bagi mereka yang belum teridentifikasi dan kepatuhan minum obat bagi yang sudah terkena tekanan darah tinggi merupakan kunci pengendalian hipertensi.

Dr Suharjono SpPD-KGH, Kger, staf divisi Nefrologi-Hipertensi Departemen IPD FKUI-RSCM, juga mengungkapkan hal yang sama. Kepatuhan minum obat menurutnya sangat penting. Karena tekanan darah akibat obat ibarat efek per. Jika tidak diminum, maka tekanan darah akan kembali naik. Ia mengakui jika banyak penderita yang berhenti mengonsumsi obat ketika mereka sudah tidak lagi merasakan gejala tekanan darah tinggi. Selain itu, penderita juga mengkhawatirkan efek samping dari pemakaian obat kimia secara terus menerus. Maka dari itu, Suharjono menekankan pentingnya komunikasi antara dokter dengan pasien. Dan, ia meyakinkan penderita hipertensi untuk tidak mengkhawatirkan efek samping dari obat-obatan. Saat ini, obat dibuat berdasarkan life modification. Maksudnya, pengobatan tekanan darah tinggi disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Seperti, jika karena obesitas, maka dokter akan menyarankanuntuk mengatasi obesitasnya terlebih dahulu.

administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *